pada pagi hari ada seekor siput yang jatuh dari atas sumur dengan ketinggian 20meter.Ia berusaha naik. namun ia hanya dapat naik setinggi 3meter pada siang hari dan turun 2meter pada malam hari karena capek. pertannyaannya:
Berapa hari yang diperlukan agar siput tersebut bisa sampai di atas(tempat semula sebelum jatuh)?
sebelum melanjutkan membaca, coba pikirkan pertanyaan tersebut dan cari jawabannya.
SEKARANG
sudah?
jika sudah, mari amati cara berpikir dalam mendapatkan jawaban di atas.
mungkin anda akan membayangan bentuk siput dan sumur tersebut, cara siput jatuh dan naik perlahan tiap harinya, hingga lendir yang menjadi jejak usahanya.
mungkin anda juga dapat dengan cepat menghitung berapa meter siput tersebut naik setiap harinya, lalu mengetahui waktu yang dibutuhkan dengan persamaan matematik sederhana, bahkan memprediksi probabilitas pada jam berapa tepatnya si siput sampai di atas.
atau mungkin anda malah berpikir 'ah , itu mah relatif. bisa saja hujan turun dan siput itu jatuh lagi!' .
ya.
ITULAH PEMIKIRAN HEBAT MANUSIA DAN VARIASINYA
tak terbatas dan sebebas-bebasnya milik kita. selama itu masih menyangkut soal kerja 200milyar sel otak kita. seperti soal sederhana tadi, pasti 'mereka' menghasilkan satu jawaban yang pasti benar untuk anda.
untuk anda.
untuk mereka?
jika yang dipertanyakan adalah sebuah fakta tak terbantah dan menuntut jawaban benar, cara kerja mereka bisa dibilang 'salah' oleh pihak eksternal yang menuntutnya. kebenaranmu tak selalu diterima sebagai kebenarannya.
relativitas yang kita anggap pintar bisa dibilang bodoh.
seperti realita bahwa di dalam UN bahasa indonesia yang banyak terdapat soal berpendapat bebas dan biasanya bersifat relatif, tetap terdapat satu jawaban benar yang berlandaskan 'rumus baku si pembuat soal' dan nantinya menentukan
KELULUSAN MUTLAK.
realitanya selalu ada saat dimana kesalahan tak diampuni.
seperti itulah juga mengapa banyak calon mahasiswa gagal gara-gara meremehkan seekor siput dan menjawab soal diatas dengan jawaban 20hari.
oh, tunggu. apakah itu juga jawaban anda?
itulah mengapa terkadang kita perlu berfikir ulang
dan mungkin saja
keputusan dapat berubah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar